halo guys! kali ini gue mau share salah satu cerita pendek yang gue buat nih. asal muasalnya sih cerita ini merupakan tugas yang dikasih sama Penerbit tempat gue ikut audisi menulis gitu. gue rada lupa tentang tugasnya sih, tapi intinya kalo nggak salah disuruh buat cerita tentang tamu yang tak diundang, yang tiba-tiba dateng buat ngajakin kita sarapan bareng. pertanyaannya, apakah kamu bakal mau diajakin sarapan bareng dia? kalo nggak salah kurang lebihnya gitu deh. bingung? sama gue juga.. intinya sih tugas yang gue buat itu begini guys... yuk mareee dibaca '-')?
* * *
Hhoaaaamm. Matahari pagi mulai menyerang menggerayangi
tubuh ku yang masih dengan nyaman berbaring di tempat tidur. Dengan rasa malas
ku tutup wajah ku dengan bantal, berharap sinar cerahnya berhenti bersinar dan
berubah kembali menjadi malam. Tapi tidak, dengan kejam cahaya yang agak panas
dan meanyilaukan itu tetap nekat memasuki kamar ku melalui celah-celah
fentilasi jendela, memaksa ku memincingkan mata untuk melihat. Sudah pagi tapi
aku masih betah untuk tidur di kasur, walau mungkin sudah tidak bisa tidur
pulas setidaknya aku masih bisa tidur-tiduran merebahkan badan. Malas sekali
untuk bangun pagi ini.
Baru saja mata ku secara perlahan mulai terpejam, membawa
ku ke alam fantasi alias mimpi, tiba-tiba ku dengar pintu rumah di ketuk. Aku
tak peduli, aku tetap acuh dan menutup telinga ku dengan bantal.
Tok! Tok! Tok!
Suara itu masih saja terdengar. Aku mulai menggerutu
sebal tapi tetap diam di kamar. Tetap saja aku malas bangun walau ada tamu
sekalipun. Biar saja Mama atau Papa yang membukakan pintu, aku masih mau tidur.
Tok! Tok! Tok!
Aku mulai bangun. Dengan tampang ngantuk dan ditekuk aku
mulai keluar kamar, tapi tak ku temukan sosok Mama Papa ku. Hmm, mungkin mereka
keluar untuk marathon. Dengan gontai ku buka kunci pintu depan. Dalam hati aku
berencana akan memarahi siapapun tamu ini, pertama karena merusak tidur pagi
ku, kedua karena bertamu ke rumah orang pagi-pagi, tepatnya pukul tujuh pagi!
“Selamat pagi” Sapa tamu ku ramah. Aku malah memundurkan
langkah ku bersiap kembali menutup pintu, tapi tamu itu dengan cekatan
menahannya. Bagaimana reaksi ku tidak begitu, sang tamu yang entah siapa datang
dengan memakai topeng Spiderman sambil membawa baki yang isinya juga tidak aku
tahu.
“Boleh aku masuk?” Tamu ku berkata lagi. Aku cuma bisa mangap-mangap gagu.
“Aku datang bawa sarapan, kamu mau menemaniku makan?”
Tanyanya.
Aku diam saja dan kembali bersiap menutup pintu. Dia
pasti orang gila, atau penculik, atau pembunuh yang akan meracuni ku dengan
makanan yang dibawanya itu. Melihat ekspresi takut ku, tangannya yang menahan
pintu perlahan membuka topengnya. Aku langsung tahan nafas. Seharusnya ini
kesempatan ku untuk menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat, tapi aku
penasaran.
Dan saat dia buka topengnya aku langsung lemas, mau
pingsan. Dia… Lee Minho! Si aktor korea yang terkenal itu! Langsung ku cubit
pipi ku, memastikan ini mimpi atau bukan. Sakit. Ini nyata!
“Mau menemani ku sarapan?” Tamu ku alias Lee Minho
bertanya lagi. Aku mengangguk.
“Oppa, kenapa
bisa kemari? Kenapa bisa bahasa Indonesia?” Tanya ku lugu.
Lee Minho hanya tersenyum sambil menyiapkan sarapan pagi
kami. Aku benar-benar meleleh, senyumnya itu benar-benar membuat ku klepek-klepek. Ku perhatikan piyama dan
rambut ku yang berantakan. Aku memaki dalam hati, seharusnya aku tidur pakai
dress dan make up saja, minimal aku jadi terlihat agak cantik di hadapan tamu
ku yang ku panggil Minho Oppa.
“Aku senang kamu menemani ku sarapan” Kata Minho ramah.
“Aku juga senang Oppa,
aku sering memimpikan bertemu dengan mu akhirnya jadi kenyataan. Bagaimana
mungkin aku menolak ajakan sarapan dari orang yang selalu aku impi-impikan? Oppa tahu, aku penggemar berat kamu”
Kata ku.
Lagi-lagi Lee Minho tersenyum. Ia mulai membuka baki yang
dibawanya tadi dan menyendokannya ke piring ku.
“Nasi goreng, Oppa?”
Tanya ku heran. Kenapa ia menyuguhkan aku nasi goreng yang asli Indonesia ya? Minho
cuma tersenyum saja melihat tingkah ku, membuat ku tidak konsentrasi makan dan
akhirnya tersedak. Dengan romantis ia langsung memberi ku air. Baru saja hendak
ku ambil gelas itu tapi dengan kejam ia malah mengguyur ku.
“Oppa! Oppa!” Teriak
ku.
“Oppa apa? Ini
sudah siang, Kika! Tidur kayak orang mati, sampai Mama ketuk pintu nggak
dibukain. Bangun!” Seru mama, aku langsung manyun. Ah, ternyata Lee Minho ku
cuma mimpi.
* * *
udah guys ceritanya gitu doang karena dikasih batasan kata, hahahhaa... sudah bacakah guys? what do you think? :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar